Cerpen-Memori Kopi Hitam
Secangkir kopi hitam tersaji di atas meja dengan kepulan asapnya yang menggoda, aroma khasnya menyeruak sampai ke hidung, menjadikanku tak sabar untuk segera melahapnya, kuseruput perlahan sambil menikmati asimilasi pahit dan manisnya. Hujan di luar sana masih mengalir dengan derasnya sehingga mengurungkan niatku untuk beranjak dari tempat ini. Ya, di sebuah kedai kopi di daerah Jogja, aku bersama pengguna jalan lain berdesak-desakan untuk sekedar berteduh dan menghangatkan badan dari terpaan hujan lebat disertai angin yang cukup kencang sore ini. Untungnya aku masih mendapatkan tempat di pojok ruangan di samping jendela, sehingga aku masih bisa menikmati hujan dengan tenang di tengah ramainya suasana kedai ini. Kupandangi hujan dengan sesekali kuhirup aroma khasnya. Dalam hati, aku sangat bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk menikmati karunia-Nya, sejenak aku bertafakkur akan kekuasaan-Nya.
Tiba-tiba ada tangan yang menyapa pundak kananku, aku sedikit terkejut akan kehadirannya saat itu karena tengah memikirkan sesuatu.
"Sof, boleh aku duduk di sini?" tanya pemilik tangan itu
sambil menarik sebuah kursi kosong di depanku.
"Ehh iya, silahkan saja," jawabku gugup.
"Kenapa sih Sof, kok kayak orang kesambet gitu, terpesona dengan
aku ya," ledeknya.
"Yaelah bro, kamu kemana aja baru kelihatan batang hidungnya, ya
kagetlah aku, kitakan udah lama nggak ketemu, ehh tiba-tiba kamu nongol gitu aja,
pake acara ngagetin pula," jawabku dengan nada kesal.
Dia adalah Farkhan,
teman sejurusan sekaligus teman nongkrong ketika kuliah dulu, kami sering seru-seruan
bersama karena kebetulan kami memiliki hobi yang sama yaitu bersepeda. Dulu, hampir
setiap weekend aku dan Farkhan selalu bersepeda bersama menjelajahi tiap sudut
kota Jogja di pagi hari, sekedar untuk merefreshkan pikiran atau jalan-jalan ria.
"Masih setia dengan kopi hitam, Sof," tanyanya sambil melirik
ke cangkir kopi yang telah ludes isinya dan hanya menyisakan bubuk bekasnya saja.
Aku pun hanya tersenyum kecil membalas pertanyaannya. Dia emang telah
paham betul apa yang menjadi hobi dan kesukaanku. Kamipun lanjut berbincang panjang
lebar tentang kesibukan kami masing-masing.
"Ahh..Sofi, aku jadi teringat akan kenangan-kenangan kebersamaan
kita dulu," ucap Farkhan.
"Kamu kenapa Han, kok kayak sedang banyak beban gitu," sahutku.
Aku juga telah paham betul watak sahabatku yang satu ini, dia pasti
selalu mengingat kenangan ketika sedang dilanda banyak pikiran, sehingga aku langsung
saja menimpali dengan menanyakan keadaannya.
"Tak taulah Sof, ntar kalo udah siap aku pasti cerita kok, lebih
baik kita ganti topik lain aja," jawabnya sambil memaksakan senyuman.
"Baiklah, aku tunggu ceritanya, awas lho kalo sampe lupa, aku tagih
kamu," sahutku lagi.
"Sof, sebenernya dari dulu aku heran lho sama kesukaanmu terhadap
kopi hitam, kan jarang ada cewek yang suka kopi hitam, ya paling biasanya kopi susu.
Selain itu, menurutku kesukaanmu terhadap kopi hitam itu tak hanya sekedar suka
/ selera rasa saja, namun lebih dari itu," tanya Farkhan.
"Kenapa baru tanya sekarang bro?" candaku.
"Ya baru kepikiran aja, ayolah cerita," pintanya.
"Baiklah, karena biasanya aku yang suka menginterogasi problemmu,
sekarang aku yang akan share cerita tentang awal mula mengapa aku suka sekali dengan
kopi hitam," jawabku.
"Jadi gini, dulu aku nggak suka kopi hitam, melihat saja aku nggak
tertarik, apalagi mencicipinya, ya walaupun dulu aku sering diminta Ayahku membuatkan
kopi hitam untuknya. Namun pada suatu hari, saat aku masih SMP, sepulang dari sekolah
hujan turun dengan derasnya, akhirnya aku memutuskan untuk berteduh di depan sebuah
ruko, kebetulan di sana ada seorang ibu-ibu penjual minuman yang sepertinya juga
sedang berteduh, ibu itu melambaikan tangannya ke arahku dan akupun menghampirinya.
"Pulang sekolah Nak?" sapa Ibu itu.
"Iya Bu," jawabku.
"Ini diminum dulu Nak, biar badannya hangat," katanya
sambil menyodorkan segelas minuman hangat kepadaku.
"Ehh nggak perlu repot-repot
Bu, kebetulan uangku udah habis,'' kataku polos.
"Gratis kok Nak, nggak usah bayar, Ibu emang ingin memberikannya
kepadamu," balas Ibu itu.
"Ohiya, terimakasih banyak Bu," sahutku sambil meraih gelas
tersebut.
Setelah kulihat, ternyata minuman hangat itu adalah kopi hitam,
waktu itu aku dilema, tak enak hati untuk mengatakan bahwa aku belum pernah sekalipun
meminumnya, akhirnya dengan terpaksa aku meminum kopi itu dan alangkah terkejutnya
aku dengan rasa kopi hitam itu. Rasanya benar-benar di luar dugaanku selama ini.
Selama ini, aku menyangka bahwa kopi hitam itu rasanya pahit seperti obat, ternyata
rasanya begitu enak dan unik antara perpaduan rasa pahit dan manis yang menyatu.
Akupun langsung meminumnya hingga habis. Ibu itupun tersenyum melihat tingkahku.
"Kamu mirip sekali dengan anak ibu Nak, dia sangat suka sekali
dengan kopi hitam, saat ibu membuatkan untuknya, dia pasti langsung meminumnya hingga
habis, sama sepertimu," kata Ibu itu dengan mata berkaca-kaca seperti mengenang
sesuatu.
Aku hanya nyengir dan berusaha tersenyum saat itu, aku nggak mungkin
mengatakan bahwa sebenarnya itu adalah kali pertama aku mencicipi kopi hitam melihat
keadaan ibu yang seperti itu.
"Emang anak ibu di mana sekarang Bu?" tanyaku kala itu.
"Anak ibu sudah meninggal Nak, dia tertabrak kereta 3 bulan yang
lalu saat pulang sekolah bersama Ayahnya, dia seumuran denganmu," kata Ibu
itu dengan meneteskan air mata.
"Ohh maaf Bu, aku nggak
bermaksud untuk..."
Belum selesai aku berkata, ibu itupun langsung memelukku dan mengatakan
tidak apa-apa. Aku langsung terkejut dan entah kenapa saat itu aku langsung teringat
bundaku di atas sana, baru kali itu aku merasakan belaian kasih sayang dari seorang
ibu, air mataku pun menetes haru, aku sangat bahagia waktu itu. Ya, belaian
kasih sayang dari seorang ibu yang belum pernah aku rasakan sebelumnya, sebab
bundaku telah syahid terlebih dahulu ketika melahirkanku, sehingga hanya potret
wajahnyalah yang bisa kupandang sampai sekarang sebagai obat rindu, tanpa ada sedetikpun
kesempatan bagiku untuk merasakan sentuhan kasih sayang darinya."
"Bundaa..."
Tak sadar aku berteriak dengan kencang hingga beberapa pengunjung kedai
kopi ini menoleh kearahku. Akupun mengakhiri ceritaku dengan isakan dan istighfar.
"Sof,udah ya, jangan nangis lagi, aku yakin kamu kuat kok,"
kata Farkhan mencoba menenangkanku.
"Iya,aku nggak papa kok Han, cuma tadi kebawa suasana aja, begitulah
kira-kira ceritanya Han, aku sangat suka dengan kopi hitam ini, setiap kali meminumnya,
aku sambil membayangkan dan mencoba untuk merasakan kasih sayang dari seorang ibu,
seperti kopi hitam waktu itu, kopi hitam yang dibuat dengan penuh rasa cinta seorang
ibu,” sahutku sambil berusaha tersenyum dan menyeka air mata.
"Terimakasih Sofi atas ceritanya, aku jadi sadar, sebenarnya problemku
sekarang ini adalah ibuku, aku udah durhaka kepadanya Sof, aku nggak nurut sama
dia, aku telah menyia-nyiakan beliau hanya karena egoku. 3 hari yang lalu Ibuku
menelponku dan menyuruhku pulang ke Sulawesi, namun aku lebih mementingkan
pekerjaanku. Baiklah aku pamit ya Sof, aku akan segera menemui ibuku di Sulawesi
sana dan meminta maaf kepadanya."
"Iya Han, hati-hati di jalan dan sampaikan salamku pada ibumu di sana".

Komentar
Posting Komentar