Cerpen-Menjaga Hati Memangkas Ego Pribadi
Arissa, begitulah orang-orang memanggilku. Tomboy, begitulah orang-orang mengenalku. Aku adalah anak bungsu dari 3 bersaudara. Hobiku jalan-jalan melanglang buana. Di usiaku yang menginjak dewasa ini, ayahku memasukkanku ke sebuah pondok pesantren Tahfidzul Qur’an yang cukup terkenal di daerah yang disebut sebagai daerah istimewa, apalagi kalau bukan Yogyakarta. Daerah yang dikenal sebagai pusatnya pelajar. Ayah sengaja memasukkanku ke ponpes agar aku lebih feminim, katanya. Sebenarnya aku ingin melanjutkan ke sebuah perguruan tinggi yang telah kuidam-idamkan sejak duduk di bangku SMP. Namun, impianku itu harus kupupus dalam-dalam demi menuruti kemauan Ayah. Sebenarnya aku ingin memberontak, namun sebagai anak, aku harus berbakti kepada orangtua. Akhirnya, beginilah nasibku. Aku harus bergulat dengan hafalan,hafalan,dan hafalan setiap harinya.
Satu bulan berlalu bagiku di ponpes ini rasanya bagai 1 tahun. Aku hanya bisa bersabar dan berusaha mencintai aktivitasku. Aku yang sangat menyukai kebebasan, kini harus terkungkung dalam sebuah bangunan yang penuh dengan peraturan. Aku sungguh merasa tidak nyaman. Ingin rasanya aku kabur dari tempat ini. Namun untungnya perasaanku selalu mengingatkanku untuk tidak mengecewakan kedua orangtuaku, apalagi almarhumah ibuku yang sangat menginginkan anaknya menjadi hafidzoh, walaupun terkadang logikaku melawan perasaan tersebut dengan argumen-argumen yang mematahkannya. Aku sering berkecamuk dengan perasaan dan logikaku sendiri. Sungguh berat memang, kala harus melakukan sesuatu yang bukan merupakan keinginan dan kesukaan diri sendiri.
---
Pagi ini, aku sengaja meminta izin ke bagian keamanan
untuk menemui Aliya, teman SMA ku dulu yang kini tengah menempuh pendidikan di
salah satu universitas negeri yang sangat terkenal di Jogja, universitas
impianku sejak aku duduk di bangku SMP. Setelah mendapatkan izin, akupun segera
mencari halte Transjogja. Tujuanku adalah jalan Malioboro. Kami sengaja bertemu
di sana dengan alasan tempat itulah yang mudah diakses dengan kendaraan apapun,
termasuk Transjogja ini. Tepat pukul 08.30, Transjogja yang kunaiki pun sampai
di halte 2 Malioboro. Akupun turun dan mencari tempat yang sekiranya bisa kududuki
sembari menunggu Aliya. Kuambil mushaf dari dalam ranselku dan kubuka
halamannya untuk muroja’ah beberapa ayat yang nanti sore harus kusetorkan. 15
menit berlalu, yang ditunggu pun tak kunjung datang. Aku mulai gelisah,
celingukan ke sana kemari mencari sosok yang kunanti, namun sepertinya belum
ada tanda-tanda kedatangannya. Kuputuskan untuk berjalan menyusuri Jalanan
Malioboro ini. Pikiranku mengenang harapan-harapanku dua tahun silam, saat
duduk di bangku SMA. Aku telah merencanakan sedemikian rupa tentang apa yang
harus kulakukan nantinya ketika menjadi mahasiswi di kampus impian. Ahh,
lagi-lagi aku harus menerima kenyataan. Kenyataan yang tak sesuai harapan. Aku
memang bermimpi untuk menjadi anak rantau di Jogja, namun sebagai mahasiswi,
bukan sebagai santri.
Krucuk,krucuk, bunyi yang ditimbulkan dari perutku ini
sudah tak dapat disembunyikan lagi, karena sedari pagi memang belum sarapan,
akhirnya kuputuskan untuk mampir di sebuah warung gudeg yang tak jauh dari
tempatku berpijak sekalian icip-icip gudeg langsung di kota asalnya. Karena
warungnya lumayan ramai dan tak ada tempat kosong lagi selain tempat duduk di
pojok ruangan, akhirnya aku duduk di sana.
“Permisi kak,
ikut duduk di sini ya,” kataku pada seorang laki-laki yang telah lebih dulu
duduk di tempat itu.
“iya, silahkan,” jawabnya tanpa menoleh sedikitpun ke arahku
karena sedang sibuk dengan layar laptopnya.
“gak ada etika,”
gerutuku lirih yang ternyata di dengar olehnya.
“Ngomong apa
barusan?” tanyanya sambil melirik ke
arahku.
“ehh enggak, gak jadi,” kataku gugup.
“Aku denger
lho, tadi kamu ngatain aku gak ada etika,” sambungnya.
“Hehe, maaf, abis tadi kamu diajak bicara gak noleh”
jawabku.
“terserah aku dong, kepalaku juga.” ucapnya sambil
tertawa.
“Nah itu yang dimaksud gak ada etika, seenggaknya
ketika kita diajak bicara oleh oranglain, kita menghadapkan wajah kita ke orang
tersebut sebagai etika dalam bersosialisasi dengan orang lain,” kataku lagi.
“Oke-oke, aku minta maaf jika menurutmu tingkahlakuku
kurang baik, tadi aku emang lagi fokus ke layar laptop dan gak sempet noleh
waktu kamu ajak bicara,” sambungnya.
Kamipun akhirnya berbincang panjang lebar dengan topik
yang random. Cowok yang ternyata bernama Arya ini adalah salah satu mahasiswa
di universitas negeri yang terkenal di Jogja yang sekarang sedang fokus
mengerjakan skripsinya. Ternyata dia juga seorang santri di salah satu pondok
pesantren di Jogja. Mendengar dia sebagai mahasiswa yang sekaligus santri, aku
semakin antusias untuk mendengar cerita-ceritanya. Dari penuturannya yang
kudengar, setidaknya aku mendapatkan pencerahan tentang pondok pesantren yang
menurutnya bukan merupakan momok yang membosankan seperti yang aku pikirkan
sebelumnya. Baginya, menjadi santri adalah anugerah dari Tuhan untuk dirinya
dan merupakan kesempatan yang tak boleh disia-siakan.
“Aku dari dulu ingin menjadi santri, aku ingin menjadi
penjaga setia firman Allah dan mempelajari kitab-kitab ulama salafussholih yang
merupakan pewaris baginda Nabi. Namun, orangtuaku menyuruhku untuk kuliah agar
kehidupanku mapan dan mendapatkan pekerjaan yang terjamin, sebab mereka
berpandangan bahwa kehidupan yang mapan itu bisa didapat dengan pekerjaan yang
terjamin, dan pekerjaan yang terjamin bisa didapat dengan sekolah yang tinggi.
Maklumlah, orangtuaku adalah orang awam yang hanya mengukur kebahagiaan dengan
materi, padahal sejatinya gak gitu kan? kebahagiaan yang hakiki bukan diukur
dari materi saja, namun ketenangan dan kepuasan batin juga. Bagiku ketenangan
batin bisa didapat dengan mendekatkan diri kepada Sang Khalik, dan salah satu
jalan untuk bisa mendekatkan diri pada Sang Khalik inilah dengan menjadi santri
di pondok pesantren. Sebab, di pondok pesantren inilah kita akan dididik dan
diberi pengetahuan tentang agama.” katanya.
“Aku menjadi santri, bertempat tinggal di pondok
pesantrenpun orangtuaku tak mengetahuinya Ris, yang mereka tahu aku adalah
seorang mahasiswa di salah satu universitas terkenal di Jogja yang suatu saat
nanti akan pulang untuk mengubah nasib keluarga kami menjadi lebih baik. Sejak
aku merantau ke Jogja, orangtuaku tak memintaku pulang sebelum aku benar-benar
meraih kesuksesan. Maklum juga, karena tanah kelahiranku di ujung pulau
Sumatera sana. Jadi, daripada menghabiskan uang untuk perjalanan pulang pergi,
lebih baik nanti pulangnya sekalian. Begitulah kira-kira pesan ayahku kala
itu”. Imbuhnya.
“Keren” kataku dalam hati. Aku mulai mengaguminya.
Karena tak ingin kehilangan kesempatan ini, lantas akupun menyambunginya dengan
beberapa pertanyaan. Obrolan kami mengalir begitu saja. Tak terasa, hari sudah
siang. Arloji di tanganku menunjukkan pukul 10.17 WIB. Ia pamit untuk pergi duluan setelah
mengangkat panggilan telefon beberapa menit yang lalu. Ada urusan mendadak
katanya.
“Sampai jumpa, jika Tuhan mengizinkan, kita pasti akan
bertemu kembali. Manfaatkanlah
kesempatanmu itu sebaik mungkin, jangan kau sia-sia, nikmatilah
prosesnya, kau merasa bosan dengan aktivitasmu karena belum terbiasa saja.”
Pesannya padaku sebelum beranjak meninggalkanku.
---
Setelah itu, akupun bergegas mencari wartel untuk
menghubungi Aliya. Namun, tak kutemukan satupun wartel di jalan Malioboro ini.
Lalu kutanya Pak satpam yang kebetulan
berada di sampingku. Ternyata memang tidak ada wartel di jalan Malioboro ini.
“Ini, pinjem hp saya dulu aja Mbak,” kata pak satpam
itu sambil menyodorkan hp nya.
“Wah, Alhamdulillah, terimakasih banyak Pak,” jawabku
sambil mengambil ponsel itu. Ternyata masih banyak orang baik di bumi Tuhan
ini, batinku dalam hati. Setelah beberapa kali menghubungi Aliya dan hasilnya
nihil, kuputuskan untuk mengembalikan ponsel itu ke pak satpam dengan pasrah.
Ada rasa kecewa dalam dada karena tak ada kejelasan dan tanda-tanda kedatangan
Aliya, namun aku berusaha menjaga hatiku ini untuk tidak bersu’udzon padanya.
Jam menunjukkan pukul 10.53, akupun memutuskan untuk pulang ke Pondok Pesantren
mengingat aku hanya diizinkan keluar hingga waktu dzuhur.
Sesampainya di pondok pesantren, sekitar pukul 11. 34,
aku bergegas menuju kamarku dan merebahkan diri sebentar sambil menunggu waktu
jamaah dzuhur tiba.
Selesai jamaah dzuhur, Mbak Septi selaku bagian
komunikasi pondok pesantren memanggilku karena ada panggilan telefon untukku.
Akupun segera menuju sebuah ruang khusus tempat santri menerima telefon.
“Halo Assalamualaikum,” ucap suara di seberang telefon
yang sudah tak asing lagi di telingaku.
“Waalaikumsalam Aliya,” jawabku bahagia.
“Arissa, maaf baru bisa berkabar, maafkan Liya tak
bisa menepati janji untuk menemuimu di Jalan Malioboro tadi pagi, kamu pasti
kecewa,” katanya dengan suara serak.
“Tak apa Liya, memang ada rasa kecewa, namun aku yakin
kamu pasti punya alasan tak menemuiku tadi pagi,” jawabku.
“Mama Liya meninggal dunia Ris, jadi pagi tadi Liya
harus segera pulang ke rumah,” katanya lagi sambil terisak.
“Innalillahi Wa Inna Lillahi Roojiiuun,” jawabku
tersentak.
Tak terasa, air mataku menetes seketika itu juga.
“Liya minta do’anya ya Ris, dan juga apabila mama Liya
ada salah sama Rissa mohon untuk dimaafkan,” lanjutnya.
“Iya Liya, semoga mama Liya diterima segala amal
baiknya dan mendapat tempat yang terbaik di sisi Yang Maha Kuasa. Yang sabar ya
Liya,” kataku mencoba menenangkannya.
“Aaamiin ya Robbal Aaalamiin, Makasih ya Rissa. Sudah
dulu ya Ris, lain waktu kita sambung lagi obrolan kita. Assalamualaikum. See
you next time.”
“Waalaikumsalam Liya, See you too”
---
Malam ini, setelah selesai ngaji kitab Tafsir Jalalain, kira-kira jam sebelas malam, kubuka mushafku untuk muroja’ah hafalanku dan
menyiapkan lembar hafalan baru yang hendak kusetorkan besok pagi. Sejak
pertemuanku dengan Arya, laki-laki yang kutemui di warung gudeg Jalan Malioboro
pagi itu, seenggaknya aku telah merubah mindsetku tentang pondok pesantren. Aku
sangat mencintai dan menikmati aktivitasku sekarang. Pondok pesantren bukanlah momok, melainkan sebuah surga tempat
ketenangan dan kedamaian. Pondok Pesantren adalah penjara suci bagi mereka yang
mau mentafakkurinya. Aku sangat bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk
senantiasa dekat dan mengkaji firman-Nya. Aku sangat bersyukur masih diberi
kesempatan untuk berproses menjadi salah satu penjaga firman-Nya. Istiqomahkan
hamba dalam jalan-Mu Ya Rabb. Ridhoi hamba untuk menjadi salah satu penjaga
Firman-Mu ya Rabb. Do’aku malam ini sebelum kupejamkan mata di alam mimpi.
---
Empat tahun
berlalu di pondok pesantren ini terasa begitu cepat. Kini telah tiba moment
wisuda bagi santri yang telah berhasil menyetorkan hafalan 30 juz bil ghoib.
Alhamdulillah pada hari ini namaku juga termasuk ke dalam daftar santri-santri
lulus bil ghoib tersebut. Aku sangat bersyukur tiada terkira. Kulihat juga Ayah
yang lisannya tak henti-hentinya melafadzkan pujian kepada Sang Maha Kuasa kala
menyaksikan putrinya ini dipanggil menjadi salah satu wisudawan Al-Qur’an 30
juz bil ghoib. Alhamdulillahirobbilalamiin. Rencana-Mu begitu indah Ya Allah.
Skenario-Mu adalah sebaik-baik skenario. Engkaulah Sang Maha Sutradara,
Penguasa alam semesta.
“Selamat Nak, Ayah sangat bangga padamu, Ibumu
juga pasti akan bangga melihatmu di atas sana,” kata Ayah sambil memelukku.
“Iya Ayah,”
jawabku sambil terisak di pelukan Ayah.
“Maafkan Rissa
yang dulu pernah gak mau nurut sama Ayah, Rissa yang suka menentang Ayah”
sambungku lagi.
Setelah acara
wisuda, santri-santri sudah diperbolehkan untuk pulang. Seperti biasanya,
wisuda ini dilaksanakan 1 minggu sebelum bulan Ramadhan. Jadi, liburan pondok
pesantren sekaligus liburan bulan Ramadhan dan lebaran. Hari ini aku memutuskan
untuk menikmati Ramadhan bersama Ayah di rumah setelah 3 tahun sebelumnya aku
selalu menikmati Ramadhan di pondok pesantren.
#Ayo mondok gess, mondok itu menyenangkan lho..Hehe :)
.jpg)
Komentar
Posting Komentar